Kondisi Geografis Kabupaten Kaimana

Letak dan Luas Wilayah

Kabupaten Kaimana terletak di bawah garis khatulistiwa, posisi Kabupaten Kaimana berada di antara 020o,90’ – 040o,20 Lintang Selatan dan 1320o,75’ – 1350o,15’ Bujur Timur, dengan ketinggian 0 – 100 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagai bagian dari Provinsi Papua Barat, letak Kabupaten Kaimana terletak di sisi paling Timur provinsi tersebut. Jika bentuk Pulau Papua diibaratkan seperti burung Cendrawasih, letak Kabupaten Kaimana ada di bagian lehernya.

Peta Wilayah Administratif Kabupaten Kaimana
Peta Wilayah Administratif Kabupaten Kaimana

Kabupaten Kaimana berbatasan langsung dengan Laut Arafuru pada bagian selatan, di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama. Sedangkan pada sebelah timur Kaimana berbatasan dengan Kabupaten Mimika dan Kabupaten Nabire, dan di sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Fakfak.

Wilayah yang luas membuat jarak dari pusat kota ke ibukota distrik terbilang jauh. Jarak dari setiap distrik ke ibukota kabupetan, juga berbeda. Beberapa distrik memiliki jarak tempuh yang sangat jauh ke Kota Kaimana. Distrik Yamor merupakan distrik dengan jarak terjauh, yakni dengan jarak tempuh 190 km. Etna juga menjadi salah satu distrik terjauh dari Pusat Kota Kaimana yang berjarak 141 Km atau 84 mil dari pusat Kota Kaimana, selain Yamor yang masih lebih jauh lagi ditambah perjalanan jalan kaki.
Akses jalur darat yang belum banyak terbuka dan sangat terbatas, sehingga membuat transportasi laut menjadi pilihan utama. Pada musim timur, akses lewat laut ke beberapa distrik juga terhambat karena kondisi angin kencang dan tingginya gelombang laut. Saat laut tengah bergolak, praktis akses ke yang relatif terbuka hanya dua distrik di daerah teluk yakni Distrik Arguni Bawah dan Teluk Arguni. Distrik-distrik lainnya bisa jadi terisolasi sampai menunggu cuaca bersahabat.
Kondisi geografis dengan keterbatasan akses infrastruktur dan transportasi semacam ini memang khas pada daerah baru. Tantangan alam sudah menjadi bagian kehidupan sehari- hari yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Kaimana dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Terutama saat Pemerintah Kaimana bersentuhan langsung dengan masyarakat kampung di berbagai pelosok distrik. Kondisi ini mengambarkan terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan publik yang hanya tersedia di Ibu Kota Kabupaten.

Seperti halnya wilayah pesisir lain di Indonesia, wilayah Kabupaten Kaimana terdiri dari daratan dan lautan, dimana luas keduanya hampir sama. Terdiri dari 676 pulau, luas keseluruhan kawasan Kabupaten Kaimana ialah 36.000 km2, dengan luas daratan 18.500 km2 dan hamparan lautan seluas 17.500 km2. Meski termasuk kawasan bahari, namun bentang alam wilayah Kabupaten Kaimana cukup beragam, mulai dari kontur perbukitan, pegunungan, lembah sungai, dataran rendah, dan pesisir pantai. Pada wilayah pantai, sebagian daerah merupakan pesisir pada laut lepas Arafura, sebagian lainnya berada di wilayah teluk maupun tanjung. Adapun garis pantai daratan utamanya ialah sepanjang 1.776 km dan garis pantai kepulauan sekitarnya sepanjang 660 km.

Kaimana sudah menjadi pusat keramaian sejak masa kolonial. Pada masa saat Perang Pasifik, daerah ini menjadi pangkalan tentara Belanda dan kemudian diambil alih Jepang. Beberapa peninggalan bangunan masa lalu bisa ditemukan sampai saat ini seperti di kawasan pertokoan Trikora. Bandara Utarum pertama kalinya juga dibangun oleh bala tentara Jepang. Secara geopolitik, Kaimana memang memiliki letak strategis sejak dahulu.

Kaimana menjadi daerah otonom sejak dimekarkan dari Kabupaten Fakfak pada tahun pada 12 April 2002, berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Secara administratif, saat ini Kabupaten Kaimana terdiri atas 7 distrik, 2 kelurahan, dan 86 desa/kampung. Pada tahap awal ditetapkan sebagai daerah otonom baru tahun 2002 wilayah administratif, Kabupaten Kaimana hanya terdiri dari empat distrik (kecamatan) yaitu Distrik Kaimana, Distrik Teluk Arguni, Distrik Buruway dan Distrik Etna. Kemudian pada tahun 2006 dilakukan pemekaran kecamatan sehingga menambah tiga distrik lainnya. Distrik Teluk Arguni kemudian disebut sebagai Distrik Teluk Arguni Atas, dan sebagian wilayahnya dimekarkan menjadi Distrik Arguni Bawah, serta dua distrik lainnya yaitu, Distrik Kambrauw dan Distrik Yamor. Sejak awal dibentuk, Distrik Kaimana ditetapkan sebagai Ibu Kota Kabupaten Kaimana.

Luas wilayah dan jumlah pulau masing-masing distrik berbeda satu dengan lainnya. Distrik Teluk Etna adalah distrik paling besar luas wilayahnya yakni dengan luas 4.195 km2 atau sekitar 22,68% dari total luas wilayah Kaimana. Distrik Kambrau menjadi distrik paling kecil dengan luas wilayah 775 km2 atau setara dengan 4,08 % luas keseluruhan Kaimana. Sedangkan Distrik Kaimana menjadi distrik dengan jumlah pulau-pulau paling banyak yakni 482 pulau kecil.

Luas Wilayah Kabupaten Kaimana Berdasarkan Distrik
Persentase Luas Wilayah Distrik di Kabupaten Kaimana

Iklim di Kabupaten Kaimana

Kabupaten Kaimana memiliki iklim tropis basah, seperti halnya wilayah-wilayah lain di Indonesia. Meski secara umum di Indonesia kita mengenal hanya dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, masyarakat di Kabupaten Kaimana juga mengenal empat musim lain. Keempat musim tersebut yaitu musim Panacaroba Timur (Maret – Mei), musim Angin Timur (Juni – Agustus), Pancaroba Barat (September – November), dan musim Angin Barat (Desember – Februari).
Perubahan yang terjadi pada setiap musim tersebut sangat berkaitan erat dengan aktivitas masyarakat terutama pada sektor laut, sepert para nelayan dan transportasi laut. Pada musim Angin Timur, misalnya, kecepatan angin dan gelombang akan menghambat kegiatan penangkapan ikan oleh para nelayan, serta perjalanan dengan moda transportasi laut juga menjadi terhambat. Demikian pula sebaliknya, pada saat musim Angin Barat, gelombang laut cenderung landai dan teduh atau tenang.
Cuaca di Kabupaten Kaimana tergolong bersuhu tinggi (udara panas), dan setiap tahun suhu udara tersebut mengalami perubahan. Berdasarkan data yang dicatat oleh BPS Kabupaten Kaimana diketahui bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2015-2019) suhu udara maksimum mencapai 36,0oC, dengan rata-rata suhu udara maksimum 32,9 oC, dan hal ini terjadi pada tahun 2019. Jika dibandingkan dengan suhu udara tahun sebelumnya (2018), maka telah terjadi kenaikan suhu yang signifikan, yakni lebih dari 3 oC.

Sebagai kawasan yang didominasi oleh kawasan pesisir, Kaimana memiliki kelembapan udara dan tekanan udara yang cukup tinggi, dimana hal ini sangat mempengaruhi tingginya curah hujan di wilayah itu. Dengan kondisi demikian wilayah Kaimana sangat potensial untuk dijadikan area pertanian/perkebunan, disamping melimpahnya potensi laut. Rata-rata kelembaban udara di Kabupaten Kaimana sejak 2015 – 2019 ialah antara 60,8% sampai 97,7%. Kelembapan udara tertinggi (97,7%) terjadi pada tahun 2019, dan perubahan peningakatan kelembapan udara pada tahun tersebut sangat tinggi, yakni lebih dari 10%, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kurang dari 5%. Sementara rata-rata tekanan udara selama kurun waktu lima tahun terakhir (2015 – 2019) mengalami penurunan setiap tahun, dimana pada tahun 2015 sebesar 1011,20 menjadi 1010,92 pada tahun 2019.

Suhu Udara Kab. Kaimana tahun 2015-2019 (Celcius)
Kelembaban Udara dan Tekanan Udara (2015 - 2019)

Jumlah curah hujan di Kabupaten Kaimana cenderung mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir (2017 – 2019). Penurunan drastis jumlah curah hujan per tahun terjadi pada 2018 yakni sebanyak 817 mm3, dimana pada tahun 2017 banyaknya curah hujan sebesar 2.902 mm3 menjadi 2.085 mm3 pada tahun 2018. Sementara curah hujan terendah terjadi pada Bulan Agustus 2017, yakni 37 mm3, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan April 2018. Dalam kurun tiga tahun tersebut umumnya jumlah curah hujan cenderung tinggi pada Bulan April, Mei, dan November. Sedangkan tren curah hujan rendah terjadi pada Bulan Agustus dan Oktober.

Banyaknya Curah Hujan setiap Bulan, 2017 - 2019 (mm3)
Banyaknya Hari Hujan per Bulan, 2015 - 2019 (hari)

Setiap bulan wilayah Kaimana mengalami turunnya hujan, dengan jumlah hari hujan yang berbeda-beda. Namun secara umum jumlah hari hujan cukup merata hampir di setiap bulan. Selama kurun waktu 5 tahun (2015 – 2017), jumlah hari hujan terendah terjadi pada Bulan Oktober 2015, yang terjadi hanya 2 hari. Sedangkan jumlah hari hujan terbanyak dalam kurun waktu yang sama terjadi pada pada Bulan Desember 2017, sebanyak 24 hari. Ini sangat kontras dengan kondisi pada 2015 dimana pada bulan yang sama jumlah hari hujan terjadi hanya delapan hari.

Jika dibandingkan dengan jumlah hari hujan yang berlangsung pada tahun 2015, maka jumlah hari hujan setiap bulan pada tahun 2017 – 2019 mengalami peningkatan. Pada Juni – Desember 2015, jumlah hari hujan dibawah 10 hari/bulan. Sedangkan pada pada bulan yang sama di tahun 2017 – 2019 hampir seluruhnya diatas 10 hari/bulan, kecuali pada Agustus 2017. Selain itu, jumlah hari hujan yang berlangsung pada tahun 2015 masih memperlihatkan dengan bulan-bulan musim kemarau dan musim penghujan.

Sementara hal tersebut tidak tampak jelas pada tahun 2017 – 2019 karena jumlah hari hujan yang fluktuatif dan hampir merata setiap bulannya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Kaimana mengalami dampak perubahan iklim global yang mengakibatkan musim kemarau dan musim penghujan tidak dapat diprediksi dengan jelas seperti masa sebelumnya.

Pola penyebaran hujan di Kaimana memiliki dua tipe yakni pola tunggal dan pola ganda. Pada pola tunggal terdapat perbedaan yang jelas antara curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Daerah dengan pola tunggal terjadi di Distrik Kaimana, Teluk Arguni dan Teluk Etna. Sementara pada pola ganda, terdapat dua kali puncak musim hujan dalam setahun. Pola semacam ini terdapat di wilayah utara dan selatan Kaimana.

Sumber Data : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kaimana